(Ayub
3:11) Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari
kandungan?
Pertanyaan "Apa salahku?" sering muncul saat kita mengalami masalah berat atau menderita bukan karena
kesalahan sendiri. Kita kadang menggugat Tuhan, kenapa mengizinkan penderitaan
ini? Kita menganggap Tuhan tidak adil. Kita mulai membandingkan diri dengan
tetangga sebelah. "Orang itu brengsek hidupnya, kok malah kaya raya? Dia korupsi, kok hidupnya aman-aman saja?" Dan seribu keluhan yang lain.
tetangga sebelah. "Orang itu brengsek hidupnya, kok malah kaya raya? Dia korupsi, kok hidupnya aman-aman saja?" Dan seribu keluhan yang lain.
Dibelit penderitaan yang sangat berat, Ayub
menyesali keberadaannya di dunia. Penderitaan tak tertanggungkan membuat
dirinya berandai-andai tidak pernah dilahirkan. Bahkan ia berharap mati saja ketika
masih bayi atau saat dilahirkan. Ayub, orang yang saleh itu, tidak mampu
memahami situasi yang dihadapinya; ia tidak tahu penyebabnya dan ia juga tidak
tahu jalan keluarnya. Namun, ia tidak lepas kendali. Tersirat rasa marah kepada
Tuhan, tetapi ia tidak mengutuki Tuhan. Putus asa, tetapi ia tidak melawan
Tuhan. Pedih, tetapi ia tidak menuduh bahwa Tuhan tidak adil. Dalam rasa sakit
dan kepahitan, Ayub tidak berbuat dosa.
Memahami
penderitaan dan penyebabnya memang bukan perkara mudah. Kita mungkin sering
mempertanyakan alasan terjadinya suatu peristiwa buruk yang menimpa kita, atau
kita merasa bahwa kita tidak patut mengalaminya. Tentu Tuhan punya maksud tersendiri
bagi kita, mungkin hendak membentuk iman atau melatih kita, agar semakin kuat bergantung
kepada-Nya. Maka, apa pun gelombang hidup yang berusaha menggulung kita, jangan
berbuat dosa dengan menuduh Allah tidak adil.
Keadilan Allah Mutlak, Tidak Bisa Diganggu Gugat.

